
Hafal Alqur’an di Usia Senja
JEDDAH --- Usia yang sudah sepuh tak menyurutkan tekad Muhammad Abdullah Musa untuk menghafal Alqur’an. Memasuki usia 70 tahun, warga Arab Saudi ini berhasil menyelesaikan hafalan Alqur’annya dan lulus dengan penghargaan dari Lembaga Tahfizul Qur’an, Jeddah, dengan nilai 91.
“Ketika saya masih muda, saya sudah menghafal dua juz Alqur’an, tetapi dia lupa karena problema hidup,” ujar Musa seperti dikutip harian Arab News, edisi akhir pekan lalu. Kecintaannya kepada Alqur’an mendorong Musa menyelesaikan hafalan Alqur’an secara utuh dan penuh. Di usianya yang tak lagi muda, ia berhasil mengatasi kendala ingatan. Ia pun bergabung dengan program-program khusus yang diadadakan di masjid pada malam hari untuk laki-laki berusia senja...
Hafal Alqur’an di Usia Senja
JEDDAH --- Usia yang sudah sepuh tak menyurutkan tekad Muhammad Abdullah Musa untuk menghafal Alqur’an. Memasuki usia 70 tahun, warga Arab Saudi ini berhasil menyelesaikan hafalan Alqur’annya dan lulus dengan penghargaan dari Lembaga Tahfizul Qur’an, Jeddah, dengan nilai 91.
“Ketika saya masih muda, saya sudah menghafal dua juz Alqur’an, tetapi dia lupa karena problema hidup,” ujar Musa seperti dikutip harian Arab News, edisi akhir pekan lalu. Kecintaannya kepada Alqur’an mendorong Musa menyelesaikan hafalan Alqur’an secara utuh dan penuh. Di usianya yang tak lagi muda, ia berhasil mengatasi kendala ingatan. Ia pun bergabung dengan program-program khusus yang diadadakan di masjid pada malam hari untuk laki-laki berusia senja.
“Hal ini memberi orangtua seperti saya dan pekerja di siang hari, sebuah kesempatan untuk mempelajari kitab Allah,” paparnya. Musa menghafal secara rutin serta mendapat bimbingan dari ulama di Masjid Raja Abdul Aziz. Di masjid itu, dia berhasil menyelesaikan hafalan 10 juz.
Pada awalnya, kata Musa, ia mengalami kesulitan besar dalam pelafalan dan tajwid, tetapi kendala itu dapat teratasi. Ia lalu bergabung dengan Lembaga Tahfidzul Qur’an di Masjid Salah Karamah, Jeddah, dan berhasil menyelesaikan hafalan 30 juz.
(Seperti dikutip dari Harian Republika, Rabu. 22 Juli 2009)
Baca Selengkapnya...
Rabu, Juli 29, 2009
Hafal Alqur’an di Usia Senja
Wahai Teroris, Apakah Kamu Beragama?

Wahai Teroris, Apakah Kamu Beragama?
Oleh: Asro Kamal Rokan
Didik Achmad Taufik terbaring tidak berdaya. Hidupnya sederhana. Gajinya sebagai supervisor satpam Hotel JW Marriott habis untuk membiayai kehidupan istri dan kedua anaknya, Rafi Ansyah dan Keisya Naillah yang masih kecil. Kini, wajah, bawah telinga, kaki dan tangan lelaki itu terluka. Bom laknat pada Jumat 17 Juli lalu itu membuat keluarga sederhana itu menderita.
Bom JW Marriott dan Ritz Carlon di Mega Kuningan, Jakarta Selatan, menewaskan sembilan orang dan melukai puluhan lainnya. Para teroris, perencana, pelaku, pemberi dana, dan bahkan mereka yang mengetahui, namun melindungi, tentu menikmati hasil kekejian mereka, seperti drakula yang puas menghisap darah....
Wahai Teroris, Apakah Kamu Beragama?
Oleh: Asro Kamal Rokan
Didik Achmad Taufik terbaring tidak berdaya. Hidupnya sederhana. Gajinya sebagai supervisor satpam Hotel JW Marriott habis untuk membiayai kehidupan istri dan kedua anaknya, Rafi Ansyah dan Keisya Naillah yang masih kecil. Kini, wajah, bawah telinga, kaki dan tangan lelaki itu terluka. Bom laknat pada Jumat 17 Juli lalu itu membuat keluarga sederhana itu menderita.
Bom JW Marriott dan Ritz Carlon di Mega Kuningan, Jakarta Selatan, menewaskan sembilan orang dan melukai puluhan lainnya. Para teroris, perencana, pelaku, pemberi dana, dan bahkan mereka yang mengetahui, namun melindungi, tentu menikmati hasil kekejian mereka, seperti drakula yang puas menghisap darah.
Lihat pula ini: Chusnul Chotimah, korban Bom Bali I Oktober 2002 lalu. Bom Laknat itu membakar 60 persen tubuhnya. Kaki kirinya kini lumpuh. Warga Jl. Hang Tuah Gang II No.85, Sidoarjo, Jatim, itu menderita trauma dan cacat permanen. Setiap tiga bulan dia harus membayar Rp. 900 Ribu untuk pengobatan. Chusnul menderita selamanya.
Wahai para teroris, kami berkata kepadamu: “Perbuatan biadabmu telah menyebabkan anak-anak kehilangan ayahnya, kehilangan kasih sayang selamanya. Orang-orang tidak berdosa, bahkan diantara mereka mungkin saudaramu, bersimbah darah, cacat selamanya, dan lumpuh. Padahal mereka tidak ada salah apapun kepadamu, bahkan tidak pernah menjentikkan jari kakimu.”
Wahai para teroris, kami berkata kepadamu: “Apakah kamu beragama? Apa pun agamamu, membunuh pasti dilarang. Apalagi dalam agama Islam yang memuliakan kasih sayang dan mencintai sesama manusia. Seandainya perang sekalipun, diwajibkan melindungi perempuan, anak-anak, hewan, tumbuhan dan bahkan mengobati musuhmu yang cedera dan tidak berdaya, seperti Salahuddin Al-Ayyubi yang mengobati musuh utamanya, Richard I, The Lion Heart of England”
Jika kau mengaku beragam Islam, agama damai ini mengajarkanmu bahwa apabila kam membunuh suatu jiwa yang tak bersalah, itu sama artinya kamu membunuh manusia seluruhnya, Bahkan Rasulullah berkata, “Masuk neraka seseorang yang dengan sengaja tidak memberi makan kucingnya hingga kucing itu mati”.
Wahai para teroris, kami berkata kepadamu: “Kau tentulah orang-orang dungu dan sakit jiwa. Kau melawan musuhmu dengan cara membunuh saudara-saudaramu sendiri, yang tidak ada sangkut pautnya dengan musuh-musuhmu itu. Dan kau tentu tahu musuh-musuhmu tidak terpengaruh atas apa pun atas bom yang kau ledakkan. Tidakkah ini pekerjaan orang yang dungu dan sakit jiwa?”.
Wahai para teroris, kami berkata kepadamu: “Kau telah menjadikan rakyat bangsa ini menjadi musuhmu, padahal kami tidak pernah menyakitimu. Di mana hatimu, jiwamu, menjadikan rakyat bangsa ini menderita karena kebiadabanmu, nafsu jahatmu, kepengecutanmu. Bagaimana bisa hatimu tenang, tidurmu nyenyak dan bahkan kau berdoa untuk keselamatan dirimu dan keluargamu , sementara darah tergenang, kepala dan badannya lepas karena kebiadabanmu?”.
Wahai teroris, kami berkata kepadamu: “Apabila ibu, anak, istri dan keluargamu terbunuh, bagaimana perasaanmu? Jika kau manusia dan memiliki hati, pasti kau sedih, pilu, bahkan mungkin menjadi gila. Dapatkah kau mengatakan orang-orang yang kau cintai itu tewas sebagai bagian dari perjuangan, sementara mereka tidak ada hubungan apa pun dengan rencanamu. Mereka tidak berdosa, namun tewas berlumuran darah”.
Wahai teroris, kami berkata kepadamu: “Demi ibumu yang melahirkan, menyusui, berdoa agar kau menjadi anak yang baik dan berbakti, berhentilah membunuh, menyebar teror. Jangan biarkan darah mengalir , seperti darah yang mengalir dari rahim ibumu ketika melahirkanmu. Menyerahlah dan bertobatlah. Ibumu yang sudah wafat ataupun masih hidup pasti bangga punya anak yang pandai minta maaf, pandai mengasihi sesamanya, bukan orang-orang bengis dan dungu.”
Wahai teroris, ini kata-kata terakhir dari kami untukmu: “Berhentilah membunuh. Ketika kau membunuh orang-orang tidak bersalah kepadamu, sama saja kau membunuh seluruh manusia, termasuk ibumu, anakmu, istrimu dan keluargamu. Bagaimana kau bisa mendapatkan surga jika kau dengan sengaja dan sangat biadab membunuh saudara-saudaramu?
Referensi: Harian Republika, Rabu 22 Juli 2009 (dengan sedikit perubahan).
Baca Selengkapnya...
Minggu, Juli 05, 2009
Janganlah Merasa Besar
Janganlah Merasa Besar
Seseorang melapor kepada Imam Ahmad :
“Wahai Imam Ahmad, semalam saya menunaikan sholat malam, saya pun menangis tersedu-sedu. Sehingga rumput yang ada di sekelilingku pun seakan tumbuh karena tangisku.”....
Imam Ahmad berkata : “Sungguh, seandainya engkau tertawa terbahak-bahak tapi engkau mengakui dosamu itu lebih baik daripada engkau menangis tersedu-sedu tapi kemudian engkau merasa besar. Sesungguhnya amalan orang yang ujub itu tidak akan pernah naik ke langit…”
Janganlah Merasa Besar
Seseorang melapor kepada Imam Ahmad :
“Wahai Imam Ahmad, semalam saya menunaikan sholat malam, saya pun menangis tersedu-sedu. Sehingga rumput yang ada di sekelilingku pun seakan tumbuh karena tangisku.”
Imam Ahmad berkata : “Sungguh, seandainya engkau tertawa terbahak-bahak tapi engkau mengakui dosamu itu lebih baik daripada engkau menangis tersedu-sedu tapi kemudian engkau merasa besar. Sesungguhnya amalan orang yang ujub itu tidak akan pernah naik ke langit…”
(Lihat : Ighotsatul Lahfan/Madarijus Salikin, Ibnul Qoyyim Al-Jauziyah).
Kisah di atas mengabarkan kepada kita bahwa amalan yang dilakukan dengan perasaan bangga atau ada perasaan besar setelah mengerjakannya, justru membuat amal itu sia-sia dan tidak bernilai.
Sebab bangga (ujub) adalah penyakit perusak amal, sekaligus bibit dari kesombongan.
Bangga atau merasa paling baik bisa muncul karena beberapa hal :
1. Bisikan Syetan
Seringkali syetan membisikkan ke dalam diri kita perasaan “wah” atau perasaan hebat seusai kita melakukan sedikit saja dari sebuah ketaatan.
Kita baru saja bisa merutinkan sholat malam selama beberapa hari saja, lalu kita sudah merasa yang paling hebat.
Kita baru saja bisa membiasakan untuk berpuasa sunnah, maka kemudian kita sudah merasa yang paling hebat.
Kita baru saja bisa mengkhatamkan Al Qur'an sekali dalam setiap bulan, lalu kita sudah merasa paling hebat, dan lain sebagainya. Karena itu, waspadalah terhadap bisikan syetan.
Selalu ingatlah pepatah di atas langit, masih ada langit. Jangan pernah merasa bangga atas amalan-amalan kita, karena kalaupun kita ingin menghitungnya, apalah arti semua itu dibandingkan amalan orang lain? Seharusnya kita dapat melihat dan merenungi, mengapa mereka yang memiliki amalan yang jauh lebih berkualitas daripada kita tak pernah merasa bangga akan amalannya? Tapi, kita? Yang baru bisa sholat malam beberapa hari saja sudah merasa hebat?
2. Pujian
Pujian tak diragukan membuat seseorang menjadi besar kepala dan lupa diri. Pujian kalau tidak disikapi dengan baik justru akan menghancurkan orang yang dipuji.
Oleh karena itu syariat menganjurkan agar kita menaburkan debu ke muka orang yang memuji. Kembalikanlah pujian itu kepada Dzat yang telah menciptakan kita. Karena memang hanya Dia-lah satu-satunya yang patut menerima pujian itu.
3. Posisi dalam Masyarakat
Kadang dalam hidup bermasyarakat, ada di antara kita yang kemudian diposisikan di “atas”, dituakan dan dijadikan sandaran bagi yang lainnya. Tidak ada salahnya memang, tapi hal ini rawan terhadap perasaan ujub (merasa paling baik).
Orang kemudian akan menaruh hormat, akan mengadukan semua persoalannya kepada kita dan sebagainya, sehingga hal ini akan menimbulkan perasaan bahwa dirinya paling baik daripada yang lainnya.
Dudukkanlah diri berada di tengah-tengah masyarakat umum sekalipun kita menjadi petinggi mereka. Jangan sampai seolah kita duduk di atas kepala mereka. Mengapa kita tidak pernah ingat, siapa yang telah memberikan kita kedudukan tersebut?
Akhir kata, beramal bukanlah untuk dibanggakan kepada manusia. Karena kebanggan yang hakiki itu adalah kebanggaan kelak ketika kita dapat dikumpulkan dengan barisan orang-orang yang ikhlas di padang masyar yang sedang mengantri tiket menuju syurga.
Referensi : http://forantum.blogspot.com
Baca Selengkapnya...
Facebook Mulai Tunjukkan Watak Aslinya

Facebook Mulai Tunjukkan Watak Aslinya
Facebook mulai bikin ulah. Situs jejaring sosial yang lagi booming di kalangan masyarakat baik muda maupun tua ini, mulai menunjukkan watak aslinya yang anti dengan hal-hal yang berhubungan dengan Jihad dan Islam.
Situs jejaring sosial besutan Mark Zuckenberg ini, telah menghapus beberapa account yang selalu gencar menyuarakan Islam dan Jihad di dunia maya. Salah satunya adalah grup Cyber Jihad Community yang dibuat oleh Muhammad Jibriel Abdul Rahman (nick name Prince of Jihad) yang juga merupakan pimpinan dari Ar Rahmah Media...
Facebook Mulai Tunjukkan Watak Aslinya
Facebook mulai bikin ulah. Situs jejaring sosial yang lagi booming di kalangan masyarakat baik muda maupun tua ini, mulai menunjukkan watak aslinya yang anti dengan hal-hal yang berhubungan dengan Jihad dan Islam.
Situs jejaring sosial besutan Mark Zuckenberg ini, telah menghapus beberapa account yang selalu gencar menyuarakan Islam dan Jihad di dunia maya. Salah satunya adalah grup Cyber Jihad Community yang dibuat oleh Muhammad Jibriel Abdul Rahman (nick name Prince of Jihad) yang juga merupakan pimpinan dari Ar Rahmah Media.
Jika Irhabi 007 bisa mengguncang dunia dengan nama irhabi-nya yang mampu menembus semua jaringan situs-situs musuh, maka lain lagi dengan Prince of Jihad, selain jaringan arrahmah.com yg dimiliki olehnya, dia juga membuat beberapa grup di situs jejaring sosial facebook yang digunakannya untuk menyuarakan Islam dan Jihad serta membakar semangat para pemuda Islam.
Tak hanya profil grup yang ditendang dari komunitas facebook, administrator grup ini pun ikut menjadi korban kearoganan facebook sebagai sebuah situs ternama di dunia, termasuk account milik Muhammad Jibriel Abdul Rahman.
Grup yang telah memiliki ribuan anggota dan penggemar ini memang sangat nyaring menyuarakan Islam dan Jihad di ranah situs jejaring sosial facebook. Tak heran, para petinggi facebook merasa gerah akan sepak terjang grup ini. Mereka akhirnya menghapus grup Cyber Jihad Community dari keanggotaan facebook, tak tanggung-tanggung beserta para kru pembuat grup tersebut.
Sejak dihapusnya grup Cyber Jihad Community dan para administratornya, komentar berdatangan masuk ke account Ar Rahmah di facebook, "wah, bener2 menyedihkan. berarti facebook zionis dunk.." ujar salah satu komentar.
"Al Qur'an memang tidak pernah salah....orang kafir tidak akan ridho selamanya......" ujar komentar lain menambahkan. Bahkan ada komentar yang sangat pedas yang ditulis oleh salah satu anggota Cyber Jihad Community, "Anti-jihad wajib dibasmi!"
"Finally, it realized. see! 'they' cut the tongue of those who speak the truth," komentar lain menambahkan.
Anehnya, banyak grup lain yang juga menyuarakan ideologi seperti sosialisme dan kapitalisme atau grup-grup yang menyuarakan rasisme, namun hingga kini mereka masih saja bertahan. Apakah facebook merasa takut atau terancam akan hadirnya grup Cyber Jihad Community ini?
Mungkin akan banyak komentar yang mengatakan, kenapa harus pakai Facebook yang jelas-jelas punya orang kafir dan Yahudi pula yang jelas-jelas memusuhi Islam. Justru disini kita sebagai umat Islam harus pintar memanfaatkan peluang dan sarana. Facebook yang punya musuh Islam kita manfaatkan untuk kepentingan Islam. Seperti para mujahidin Afghan yang banyak memanfaatkan peralatan militer milik Sovyet ataupun Amerika, yang digunakan untuk memerangi mereka dengan peralatan yang mereka buat sendiri.(fq/arrahmah)
referensi: www.eramuslim.com
Baca Selengkapnya...
Menyambut Bulan Ramadhan Sejak Bulan Rajab

Menyambut Bulan Ramadhan Sejak Bulan Rajab
Hari demi hari kita lalui. Pekan demi pekan kita lewati. Bulan demi bulan pun berganti. Tidak terasa kita telah memasuki bulan Rajab. Itu artinya, tidak sampai dua bulan lagi kita akan berjumpa dengan tamu istimewa. Kita akan kedatangan bulan yang mulia...
Menyambut Ramadhan Sejak Bulan Rajab
Hari demi hari kita lalui. Pekan demi pekan kita lewati. Bulan demi bulan pun berganti. Tidak terasa kita telah memasuki bulan Rajab. Itu artinya, tidak sampai dua bulan lagi kita akan berjumpa dengan tamu istimewa. Kita akan kedatangan bulan yang mulia.
Kita mungkin merasa biasa-biasa saja saat berada di bulan Rajab seperti sekarang ini. Kita mungkin merasa sama saja ketika Ramadhan kian dekat. Dan, inilah yang membedakan generasi kita hari ini dengan generasi pertama umat Islam. Sebagaimana bedanya kita dengan mereka saat berada di hari Jum'at. Sebagaimana bedanya kita dengan mereka di waktu sepertiga malam terakhir.
Dari hadits yang sampai kepada kita, kita bisa mendapatkan kesimpulan bagaimana bedanya persiapan kita dan persiapan mereka. Rasulullah mengajarkan kepada sahabatnya -juga seluruh umatnya- sebuah doa tatkala memasuki bulan Rajab:
"Allaahumma baarik lanaa fii Rajaba wa Sya'ban, wa baarik lanaa fii Ramadhaan"
"Ya Allah berkahilan kami di bulan Rajab dan Sya'ban, serta berkahilah kami di bulan Ramadhan." (HR. Ahmad).
Doa tersebut menggambarkan betapa Rasulullah dan para shahabatnya telah mempersiapkan diri menyongsong bulan Ramadhan itu dua bulan sebelumnya. Seperti saat-saat sekarang ini, Ramadhan telah melekat di hati, dinanti, dirindui, dan jiwa raga dipersiapkan menghadapinya; sebaik-baiknya.
Karenanya kita kemudian mendapatkan jejak sejarah para sahabat Nabi yang selalu merindukan Ramadhan, berharap semua bulan adalah Ramadhan. Diantara mereka ada yang berdoa selama enam bulan sejak kepergian Ramadhan agar ibadahnya selama Ramadhan diterima Allah SWT. Lalu lima bulan berikutnya berdoa supaya dipertemukan dengan Ramadhan yang akan datang. Kita pun mendapatkan bukti dari mereka melalui sejarah yang kita baca, ternyata mereka memiliki tradisi 'me-ramadhan-kan semua bulan'.
Imam Al-Baihaqi meriwayatkan hadits yang senada dengan redaksi yang agak berbeda. Bahwa Rasulullah SAW mengajarkan doa ketika berada di bulan Rajab :
"Allaahumma baarik lanaa fii Rajaba wa Sya'ban, wa baalighnaa Ramadhaan"
"Ya Allah berkahilah kami di bulan Rajab dan Sya'ban, serta pertemukanlah kami dengan bulan Ramadhan" (HR. Al-Baihaqi).
Mungkin hadits kedua ini lebih familiar bagi kita. Tetapi pada dasarnya kita mendapatkan pelajaran yang sama; bahwa Rasulullah dan para shahabatnya telah mempersiapkan diri menghadapi bulan Ramadhan sejak dua bulan sebelumnya. Bagaimana dengan kita? Saat itu kini telah menyapa kita. [Muchlisin]
Resensi: http://muchlisin.blogspot.com
Baca Selengkapnya...
Pengumuman Untuk Umat Muslim
Pengumuman Untuk Umat Muslim
Sering kali kita menulis atau menyingkat
kata-kata dalam sebuah pesan / SMS,
dengan singkatan yang sangat salah.
kenapa jadi sangat salah.....
Pengumuman Untuk Umat Muslim
Sering kali kita menulis atau menyingkat
kata-kata dalam sebuah pesan / SMS,
dengan singkatan yang sangat salah.
kenapa jadi sangat salah,
berikut penjabaran nya :
1. Jangan katakan "Mosque" tapi katakan "masjid",
Karena ISLAM telah menemukan Mosque = Mosquitos (Nyamuk).
2. Jangan tulis "Mecca" tapi "mekkah",
Karena Mecca = rumah bir.
3. Jangan tulis "Mohd" tapi tulis "Muhammad",
Karena Mohd = Anjing dengan mulut besar.
4. Jangan pernah menulis "4JJ I" tapi "Allah SWT",
Karena 4JJ I = For Judas Jesus Isa almasih.
5. Jika ingin menyingkat "Assalamu'alaikum" tulis
dengan "Asslm" jangan menulis "Ass", Karena
Ass = Pantat.
Beritahulah semua saudara muslim anda, agar tidak mengulangi
kesalahan yang sama..
karena ini termasuk Dakwah..
Resensi: http://love4shared.blogspot.com
Baca Selengkapnya...

